Tempe dan komputer

Januari 18, 2008

Apa hubungannya antara tempe dan komputer? Jelas ngga ada yaa. Tapi saya sangat prihatin atas kelangkaan tempe di Indonesia. Hanya karena harga kedelai yang mahal? Kenapa yaaa.

Seharusnya tempe tetap ada di pasar, walaupun harganya mahal. Jadi, langkanya tempe karena produsen tempe tidak melakukan produksi. Jadi kita yang menjadi konsumen tempe ini tidak bisa menikmati gurihnya tempe.

Dengan munculnya kebijakan Presiden SBY untuk menjadikan bea masuk import kedelai menjadi 0%, berarti makin mudah kedelai masuk, makin leluasa para importir kedelai. Maka teman-teman yang peduli dengan negeri ini protes. Seharusnya digalakkan penanaman kedelai. Itu akan menyelesaikan masalah kedelai kedepannya.

Sekarang ada yang melontarkan usulan agar kedelai di subsidi. Walaah, minyak saja mau dihilangkan subsidinya. Subsidi kedelai, mana mungkin?

Tapi, ngomong-ngomong soal tempe, apakah begitu rendahnya kelas tempe sehingga harus dihargai murah? Sepotong tempe seharga Rp 1000 bisa buat makan sekeluarga. Proteinnya tinggi melebihi telur. Dikombinasi dengan oseng kangkung, walaah enak banget. Kangkung memiliki zat besi dan harganya murah. Jadi dengan kangkung seribu dan tempe seribu, kita akan memiliki lauk makan sekeluarga dan bisa seharian.

Rasanya tidak adil menghargai tempe begitu murah. Banyak mereka yang menjadi besar, pintar, punya jabatan tinggi, tapi dulu dibesarkan dengan tempe dan saudaranya tempe(ampas tahu/oncom). Naah, ahli linux dan para hacker juga maniak tempe yaaa.

Wajar deh kalau sekarang tempe dinaikkan harganya. Dari seribu jadi duaribu, mungkin masih bisa dibeli yaa. Agak besar dikit tempenya ha ha.

Buat produsen tempe, coba produksi lagi deh tempenya, mungkin omzetnya tidak sebanyak dulu tapi keuntungan bisa sama atau mendekati sama dengan yang dulu. Naikkan harga jual, karena permintaan akan tempe tetap selalu.

Pengalaman saya waktu tinggal di Jepang, sebulan saya beli tempe mentah maksimal 3 potong. Satu potong tempe harganya 300 yen, setara dengan Rp 24.000,- . Ha ha ha, sama dengan dua ekor ayam ha ha ha. Tapi di Jepang sana sama dengan harga seekor ayam. Produsennya juga orang Indonesia yang bermukim di Jepang.

Jadi tetap prospektif untuk produksi tempe walaupun harga jual mahal. Kalau tempe mahal, karena harga kedelai mahal, jadinya engkong kita jadi mau nanam kedelai lagi. Bahkan para pemuda ga jadi merantau ke kota. Enakan menanam kedelai dan tetep deket orang tua, sodara, kawan-kawan.

Iklan